Tentang Sebuah Pilihan

November 19th, 2008 by atinprabandari

BIsmillah…

Dear all, how I miss this blog… do you? ..hehehe…

Pernahkah kalian membuat pilihan? Pasti. Pilihan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Kita tak kan pernah benar-benar hidup jika tidak pernah membuat pilihan. Pilihan adalah hal yang mutlak dan ajaib. Exciting dan challenging. Sexy dan menggairahkan. Karena di belakang pilihan selalu eksis rentetan konsekuensi yang pasti memiliki dua sisi: enak dan tidak enak. Sehingga membuat pilihan memang ditakdirkan menjadi privilige manusia. Karena melibatkan tak hanya emosi, tapi juga proses kognitif, kecerdasan sosial dan yang pasti..aspek keyakinan-spiritual. Bukankah membuat pilihan merupakan sebuah proses yang mengagungkan karya cipta-Nya??

Karena dengan membuat pilihan, ketangguhan kita diuji. Kesabaran kita diganjar. Kecermatan kita dipertajam. Ketangkasan kita diasah dan kehangatan jiwa kita diperdalam. Pilihan, tidak ada kata lain, merupakan rahmat :)
Nah, entah kau setuju apa tidak, tapi bagiku, hal yang paling mendebarkan dari membuat sebuah pilihan adalah..bahwa kita tidak pernah tahu pilihan yang seperti apakah atau yang manakah yang akan kita ambil. Terkadang kita dengan terlalu yakin mengklaim bahwa kita tidak akan membuat pilihan A karena kita mempunyai prinsip 1, 2, 3..dan seterusnya. Terkadang kita yakin bahwa pilihan C yang pasti akan kita buat karena kita orang yang seperti ini, seperti itu dan lain sebagainya.

Tapi, siapa yang bisa menjamin pilihan mana yang akan kita buat? karena dunia tidak ceteris paribus. Dan kita -tentu saja, sangat tidak ceteris paribus. Kita hidup, berpikir, berinteraksi dan bergerak. Kita belajar dari pengalaman membuat pilihan yang terdahulu. Kita belajar tentang mencintai dan memikirkan konsekuensi pilihan kita terhadap orang-orang yang kita cintai. Jadi, tak ada jaminan pilihan yang kita buat from time to time akan selalu senada, akan selalu terpola dan terprediksi :)
terkadang kita percaya bahwa kita tak punya pilihan..tapi senyatanya kita sendiri lah yang memilih untuk menutup semua kemungkinan adanya pilihan tersebut :) pun pilihan-pilihan yang datang terkadang sangatlah mendebarkan..tak terduga..tak dinyana..tak terpikirkan atu bahkan..tak diharapkan.

dan terkadang, pilihan-pilihan yang telah kita prediksikan akan menjadi alternatif tindakan kita pun bisa berubah seiring waktu :) Sehingga, menjadi flesiksible dan open minded dalam merumuskan pilihan-pilihan yang akan kita pilih sesuai dengan situasi dan kondisi pun mau tidak mau pun menjadi sebuah pilihan :)
Satu hal lagi yang tak boleh kita lupakan dalam membuat pilihan…adalah konsekuensi-konsekuensi yang pasti muncul dari pilihan-pilihan tersebut. Perlu ada treatment lain dari sekedar ‘menerima dengan lapang dada’ konsekuensi-konsekuensi dari pilihan tersebut. Treatment yang menuntut tak sekedar keikhlasan dan kebijaksanaan namun juga kreativitas dan optimisme untuk membuat konsekuensi-konsekuensi tersebut baik positif maupun negatif menjadi sesuatu yang mencerahkan, yang dinamis dan memberikan makna serta manfaat.

Setelah lama membuat pilihan tanpa sempat merfleksikannya, akhirnya aku berani berkata.. AKu berani membuat pilihan yang tak kupikirkan sebelumnya, karena aku percaya bahwa konsekuensi-konsekuensi yang masih berada dalam area negatif pertimbanganku insya Alloh menjadi lahan untuk melompat jauuuuuhhhh lebih tinggi. Aku percaya. Bismillah.

Bagaimana denganmu?

Bookmark and Share

Take the Lead!!

June 28th, 2008 by atinprabandari

Bismillah,
sebuah filem yang dibintangi Antonio Banderas mampu mengubah persepsi negatifku tentang pria parlente…sekaligus membuatku tergugah menemukan kembali semangat  yang sempat tenggelam itu

Mungkin ini hadiah terindah dari Tuhan di hari ulang tahunku..ketika moment-moment membangun beruntut datang dan memantikkan api kegairahan

Take the lead!!

After a cheerful and meaningful discussion with beautiful old friends..the only that have been settled in my hearts

thanks to Aning, Luthfi, Rani, Azizah, Hanni, Mas Aji, Koko, Gusmul, Emsi, Riza, Reza, Vicky, Ares, Angky, Devie
for the everlasting energy
for the everlasting inspirations
for the unfinished love
for the beautiful spirit

IT’S THE JOURNEY; NOT THE DESTINATION

Bookmark and Share

ZERO TOLERANCE

March 3rd, 2008 by atinprabandari

Bismillah,

Agak grogi memulai lagi tulisan yang baru. Entah mengapa. Tapi sebuah penundaan berarti adalah kekalahan. Sebuah penundaan bisa berujung pada kebatalan. Na’udzubillahi mindzalik..

Setelah sekian lama terkungkung dalam sebuah pemakluman atas kelemahan diri, pemakluman atas ketertekanan dan pemaafan atas kerapuhan, aku kembali terkejut dengan apa yang terjadi di sekitarku.

Perubahan hebat. Semangat. Cinta. Dinamika. Orang-orang yang luar biasa. Manusia-manusia yang berjuang. Survival Energy. Kekuatan. Keberanian. Anti-pemakluman.

Let me show you the case.
Seorang sahabat baik memutuskan untuk mengorbankan sebuah pertemuan penting dengan organisasi internasionalnya.
"Mengapa, tante?" tanyaku
"Aku harus menyelesaikan skripsi", katanya
"Bukankah waktumu masih panjang..?"
"Tidak bisa mbak, Atin, meskipun demikian. Aku harus menyelesaikannya segera. Ini JANJI HIDUP"
Beliau pun meneruskan dan memberi petuah.
"Jangan remehkan janjimu pada orang lain, tapi di atas semua itu, JANGAN PERNAH REMEHKAN JANJIMU PADA DIRIMU SENDIRI"

Satu mutiara berharga lagi, teman.


Selama ini kita terlalu sayang untuk mendisiplinkan diri sendiri. Kita pikir kita terlalu istimewa untuk tidak dikasihani. Kita pikir kita terlalu banyak bekerja, terlalu lelah berjuang, terlalu sakit menderita.

Tidakkah kau pikir terkadang kita terlalu memberi toleransi pada diri sendiri?

Kita pikir kita pantas mendapatkan banyak pemakluman-pemakluman itu.

Kita rasa kita layak dengan hadiah-hadiah berupa kelonggaran waktu, pemaafan atas kemalasan, pemakluman atas kelemahan dan pembenaran atas ketidakmampuan

Di sebuah kesempatan aku pernah mendengan seorang birokrat berkata tentang kondisi organisasinya saat ini yang beberapa waktu lalu berhasil ‘mengeksekusi’ seorang koruptor yang mantan kapolsi

Begini katanya:

"Saat ini kami tidak metolerir sedikitpun penyimpangan. Satu penyimpangan kecil saja kami tidak akan tolerir untuk mengeluarkan pemerintah pemecatan. Karena jika tidak demikian, satu borok kecil saja, jika tidak segera diobati akan menyebar dan membuat semua organ membusuk. Saat ini kami menerapkan ZERO TOLERANCE. Tidak Ada Toleransi sedikit pun untuk hasil yang terjaga kualitasnya"

Bayangkan kebijakan itu diterapkan pada level individual.

Tentu tidak akan ada lagi paper-paper yang terlambat deadline. Tidak ada lagi surat DO karena ketidakberhasilan menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya (bahkan nyaris). Tidak ada laporan keuangan yang tertunda sehingga menyebabkan hak orang tak terbayarkan. Tak ada lagi kisah-kisah annoying lainnya (bukan kisah sedih ya)

Baiklah,

Terkadang memaafkan diri sendiri itu perlu, bahkan untuk beberapa kasus WAJIB

Namun terlalu menolerir diri sendiri terkadang hanya akan berujung pada pelemahan (kalau bukan malah pembunuhan)

Percayalah, aku hampir memetik konsekuensinya.

Kalau saja dunia tak membangunkanku dan membuang kotoran
di mataku, mungkin aku masih jadi sesosok manja yang banyak excuse atas
kemandeganku, atas ketidakmajuanku.

Semoga dapat diambil hikmahnya.

Alhamdulillah

Bookmark and Share

The Devil Wears Veil (Part 1)

January 30th, 2008 by atinprabandari


Ada dua perempuan dalam diriku: dia yang selalu mengharapkan segala kesenangan, nafsu dan petualangan hidup. Dan dia yang ingin menjadi budak rutinitas, mengabdikan diri kepada keluarga, menekuni berbagai hal yang bisa direncanakan dan diwujudkan. Aku perpaduan seorang perempuan rumahan dan perempuan sundal, keduanya hidup di dalam tubuh yang sama, dan tak henti-hentinya berkelahi.

Pertemuan kedua sosok perempuan dalam tubuhku adalah permainan beresiko tinggi. Namun juga sebuah tarian yang kudus. Ketika kami bertaut, kami adalah dua energi ilahi, dua semesta yang saling bertubrukan. Jika saja pertemuan itu tidak dilandasi oleh sikap saling menghargai, sudah pasti kedua jagad itu akan saling menghancurkan….

Dicuplik dari catatan harian Maria; seorang Gadis Lugu, Wanita Sundal dan Ibu Yang Pengertian, dalam karya penuh jiwa dari Paulo Coelho ‘Teacher of The Soul’ yang berjudul ‘Eleven Minutes’
hanya dengan ‘Eleven Minutes’ itulah segala aktivitas di dunia ini berjalan dan terus bergerak. dan Maria adalah salah seorang yang dengan segala ‘profesionalisme’nya menjadi bagian dari sebelas menit yang mengubah dunia

Kulihat kemiripan cara Maria memandang dirinya dengan sosok perempuan dalam diriku.
Seorang yang dideskripsikan sebagai ‘Graceful Outside, Garong Inside’ oleh beberapa sahabat dekatnya..
The Devil Wears Veil. Apakah kalian juga?

PS: Buat sahabat dan guru saya Mas Rachmat, saya akan pertimbangkan Flinders jika keterima hehe, terimakasih sudah menjadi sahabat yang baik selama ini, sungguh luar biasa.

Bookmark and Share

Stands for Our Beliefs (Kisah Orang-Orang yang Percaya)

November 9th, 2007 by atinprabandari

Bismillah,

Ini adalah kisah mengenai orang-orang yang percaya. Mereka percaya bahwa mereka tidaklah ditakdirkan untuk berada di dunia ini melainkan untuk sebuah peran, suatu tujuan.

Mereka yang pertama-tama mengerti terlebih dahulu mengenai Rahasia Kehidupan.

Yang kemudian percaya bahwa ia hidup untuk sesuatu. Hidup untuk menjadi sesuatu.

Ini adalah kisah mengenai orang-orang yang percaya. Yang meyakini tentang sebuah perjuangan yang telah dituliskan kisahnya jauh sebelum dunia ini tercipta. Ya, ini kisah mengenai orang-orang yang percaya.

Bahwa di dalam dirinya telah terdapat sesuatu yang kuat menyala-nyala. Yang hidup lebih daripada jiwa.

Tidak semua orang memiliki privilege untuk menjadi mereka yang percaya. Orang-orang yang percaya pertama-tama mengerti apa yang ia percaya. Ia mengenal baik dirinya dan tahu apa yang haus dari jiwanya. Orang-orang yang percaya tidak pernah sekalipun kehilangan kepercayaannya pada hatinya. Ia akan menyapa hatinya dan mendengarkan kemauannya. Hatinya hidup, karena ia membuatnya demikian. Hatinya terang, karena ia selalu menyalakannya. Orang-orang yang percaya tak pernah sedikitpun kehilangan kontak dengan hatinya. Karena hatinya terlanjur cinta padanya.

Orang-orang yang percaya berbicara pada hatinya. Meskipun ia terkadang tak selalu sepakat dengannya. Meskipun terkadang ia harus bernegosiasi dengannya. Namun, tak sedetikpun ia puasa menyapanya.

Orang-orang yang percaya bukanlah mereka yang tak pernah takut sama sekali. Namun orang-orang yang percaya menerima dan mengakui ketakutan-ketakutannya lalu menghadapinya. Mereka adalah Penakluk Kecemasan, Penghela Kekhawatiran. Orang-orang yang percaya tak pernah berhenti berada di garis depan peperangan dengan kehampaan dan keragu-raguan. Mereka orang-orang yang berani untuk menang. Namun untuk menjadi demikian, mereka akan mencintai kekalahan dan dengan tulus belajar darinya.

Orang-orang yang percaya bukanlah makhluk tanpa kesalahan, mereka tau bahwa kesempurnaan hanyalah Hak Nya dan kesempurnaan manusia adalah ia dengan segala kekurangannya. Mereka memaklumi kekurangan dan menghiasinya. Mereka adalah pasukan optimisme. Mereka bergarak dengan hebatnya, menabuh gendering perang pada prasangka dan pikiran negatif.

Orang-orang yang percaya yakin pada alam semesta. Mereka berhasrat pada keselarasan. Mereka menerima dan mengelola keadaan.

Mereka ikhlas terhadap yang maktub. Namun bukan menjadi yang menyerah.

Bookmark and Share

Daur Ulang 1: Abunawas Mencari Cinta (Dari Dulu Beginilah Cinta, Deritanya Tiada Akhiiiirrr….)

October 29th, 2007 by atinprabandari

Abunawas bilang pada temannya bahwa ia sudah kepingin menikah. Namun di desa mereka tak ada seorang gadis pun yang memenuhi kriterianya. Maka ia pun berkelana untuk mencari perempuan idamannya tersebut.

"Hati-hati di jalan ya, Was…", kata temannya. "Kalau ada yang sisa buat aku juga mau…", lanjutnya mupeng.
"Yee..ntar yaa..kuseleksi dulu..ntar kaloo ada yang ga lolos audisi tak rekomendasikan ke kamu..," jawab Abunawas (ke)pede(an).

Akhirnya berkelanalah Abunawas, berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan….hingga tibalah ia di kampungnya lagi.
Sendirian.
Teman si Abunawas yang mupeng tadi langsung menemui Abunawas; mencoba keberuntungan kalau-kalau ada ’sisa sortir’ yang bisa dimanfaatkannya..tapi..

Tok Tok Tok.. "Was..ini aku, Was..,"
"Masuk", kata Abunawas garing
"Hoey…bagaimana pencarianmu, Was. Sudah berbulan-bulan lamanya kau berkelana, pasti hasilnya juga tidak sia-sia, mana calon istrimu itu, Was..? Dan apa kau juga akan merekomendasikan padaku barang satu dua..?", celoteh temannya penuh harap.
"Memang, Ndul..aku bertemu dengan banyak gadis yang luar biasa yang tidak pernah kutemui sebelumnya sepanjang hidupku..", kata Abunawas manyun.
"Jadi…," kata temennya bego.
"Jadi gini ceritanya, Ndul..," ABunawas mulai bercerita…

"Setelah berminggu-minggu berjalan, akhirnya aku tiba di sebuah desa di balik gunung sana. Kebetulan aku kenal dengan kepala desanya. Dia temannya Bapakku nyari kodok waktu kecil. Tanpa basa-basi langsung aja, Ndul kuutarakan keinginanku. Eh, pucuk dicinta ulam tiba, Ndul. Pak Kadesnya punya anak gadis yang suppeeer geulis euy!! Dan aku pun berkenalan dengannya..", celoteh Abunawas.

"Lha terus, kok ndak kamu bawa pulang gadis itu, Was," sanggah temannya.

"Ntar dulu…setelah beberapa lama ngobrol dengannya, Ndul. Ada yang kurang beres darinya..dia lemot, Ndul. Aku stress mengetahui kenyataan tersebut. Cantik-cantik bego..nama Sekolahnya Harry Potter aja nggak ngerti…."

"Tapi aku juga ndak ngerti, Was…", kata temannya.

"Ummh..ya pokoke gitu lah Ndul, dia lemot dalam arti yang sebenar-benarnya..pupus harapanku dan kutinggalkan desa tersebut dengan alasan mau beli pulsa bentar ke desa sebelah karena di situ pada gaptek ga punya cellphone..trus pergilah aku melanjutkan pencarianku dan aku tiba di desa pinggir kali.."

"Sungai, Was.."

"Podho wae, Ndul.."

"Cuman ‘kali’ kurang romantis, Was..,"

…….. (Abunawas sempat mutung sejenak dengan interupsi ‘gak penting’ dari temennya sebelum kemudian temannya menyadari ke reseh annya dan minta maaf)

"Yap..ada apa Was di desa pinggir kali?", temannya berusaha menyesuaikan diksi.

"Aku lihat seorang gadis yang nggak kalah cantik dengan gadis anaknya pak kepala desa gaptek sedang mencuci pakaian. Keren, Ndul. Masak nyuci pakaian pun disambi sms-an. Berarti dia khan ga gaptek, Ndul. Cocoklah bersanding denganku..", sekali lagi ABunawas (ke)pede(an).

Meskipun tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya seorang gadis cantik mencuci pakaian di kali sambil sms-an, temannya tetap mendengarkan dengan antusias.

"Lalu kamu kenalan dengannya, Was?", kata temannya.

"Yap..kami ngobrol puanjang lebaar, dan yang lebih hebatnya lagi, dia tahu nama sekolahnya Harry Potter, Ndul", kata ABunawas antusias..

"Pokoknya, ni gadis geulis, cerdas pisan, Ndul.."

"Lha terus…?"

"Gak seberapa lama ada beberapa pemuda desa lewat. Trus disuit-suitin gadis itu Ndul, alih-alih menghindari mereka, si gadis justru tersenyum supergenit sama mereka, pake kedip-kedip lagi, Ndul..seketika itu perutku langsung sakit.."

"Wah..kebetulan kamu lagi ada di pinggir kali, ya Was…," temennya menanggapi gak nyambung.

"Bukan itu, maksudnya, Dodol!! Itu hanya sekedar kata kiasan untuk menggambarkan betapa jijiknya aku padanya saat itu..cantik-cantik, cerdas pula, lha kok akhlaknya ga baik.."

"Jadi akhlak itu penting juga ya, Was..", temannya manggut-manggut mendapati sebuah hikmah baru dari pembicaraan mereka.

"Iya Ndul, Seorang istri khan akan menjadi ibu yang akan mendidik anak-anak kita, coba bayangkan bagaimana kalau ia tidak memiliki budi pekerti mulia untuk diajarkan pada anak-anaknya..," sambung Abunawas sok bijak..

"Dengan segala keyakinan dan kepedihan hati, aku memutuskan untuk meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan. Akhirnya tibalah aku ke desa di tepi jalan tol, Ndul."

"Wah ini berita menggembirakan, Was..kemajuan..lalu?"(maklum temannya ABunawas belum pernah lewat jalan tol, pembaca!)
"Di sana Tuhan mempertemukanku dengan gadis pengasuh TPA yang cantik, cerdas nan Sholihah, Ndul. Subhanallah, dia merupakan gadis yang paling perfek yang pernah kutemui..", kata Abunawas takjub.

Temannya ikut ngeces, "Waaaaaaaa…….." (Bayangkan Sinchan cs lagi terkagum-kagum sama Pahlawan Bertopeng..kalau dia ini lebih mirip si Bo) "Lalu….?"

"Ya cuman gitu aja, Ndul..", jawab Abunawas nggak seru.

"Maksud Lo..? Kalau kamu akhirnya sudah menemukan gadis impianmu kok ya ndak segera dilamar en dibawa mudik, Was?", temannya heran.

"Ah, kamu ini nggak maksud juga ya, Ndul..", kata ABunawas jengkel.

"Boro-boro ngelamar, Ndul. Pas ngobrol-ngobrol aja aku dah langsung patah hati..", kata ABunawas mellow..

"Lha kenapa, Was..", temannya sok-sok emphaty.

"Lha tentu saja, Ndul..Gadis ramah, baik, cerdas cantik dan sholehah itu ternyata juga mencari seorang lelaki baik, cerdas dan sholeh pula, Ndul…..", kata Abunawas datar.

"Dan kamu sama sekali ndak masuk kriteria ya, Was….", kata temannya paham (di dalam hati tentu saja).


OOoooooohhhh….dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhirrrr…..

disadur bebas dari Storie for Parents, Children and Grand Childrennya Paulo Coelho, silahkan dimaknai sendiri hikmahnya :)

Bookmark and Share

Munajat Cinta

October 28th, 2007 by atinprabandari

Bismillah, Tuhan.. Saat aku menyukai seseorang.. Ingatkanlah aku akan ada sebuah akhir Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Berakhir..

Tuhan.. Ketika aku merindukan seorang kekasih.. Rindukan aku kepada yang rindu akan Cinta Sejati Mu.. T

uhan.. Jika aku kembali mencintai seseorang, Teruskan aku dengan orang yang mencintaiMu Agar bertambah kuat cintaku pada Mu..

Tuhan..

Ketika aku sedang jatuh cinta..jadikanlah agar tak melebihi cintaku pada Mu..

Tuhan, ketika kau berucap aku cinta pada Mu

Biarlah kukatakan kepada yang hatinya terpaut pada Mu

Agar aku tak jatuh cinta dalam cinta yang bukan karena Mu..

Amin..

dari weblog, NN

Bookmark and Share

Jangan Mati Sebelum Kamu Mati

October 26th, 2007 by atinprabandari

Ini pesan dari tante  Ellie: "Jangan Mati Sebelum Kamu Mati". Jumat 16.30, di tengah tengah naik turunnya harapan dan pencarian jawaban atas pertanyaan tentang Nya. Aku dan Tante Ellie dalam kebesahajaan dan kerendahan hati menerka-nerka dan menunggu. Tapi kami tidak punya alasan apa apa lagi untuk mengeluh (pada Nya), kami tidak punya alasan apa-apa lagi untuk diam, mundur dan gave up. Kami tidak diberikan alasan apapun. Tak tersisa alasan pun. Maka kami pun paham akan cara Nya agar kami tak membantah Kuasa Nya. Agar kami terus menerus menyandarkan segala urusan HANYA kepada Nya. Agar kami tak menyerah. Agar kami tawakal.

Malu dengan menyerah.

Malu dengan pesimis.

Malu dengan kalkulasi kalkulasi kita yang terbatas, yang justru meng-create ketidaktawakalan.

Malu dengan orang-orang yang berjuang.

Malu dengan Tuhan.

Bersyukur dengan kehadiran manusia-manusia yang menguatkan,

yang percaya, yang berusaha, yang meyakinkan,

yang tawakal.

yang pasrah.

Jangan Mati Sebelum Kamu Benar-Benar Mati, demikian kata Tante Ellie

Jangan pernah stagnan, mundur, layu ("mati") selagi masih ada tarikan nafas

Segala sesuatu LAYAK untuk diperjuangkan

Bismillah..

Tante, best thanks for u

Again, ini lagi lagi juga tentang menemukan sahabat yang konstruktif. Terimakasih Ya Rabb..

Bookmark and Share

Fix You???

October 20th, 2007 by atinprabandari

Dari blog adikku sayang Wiwien Apriliani. Miss you my cuty..

When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can’t sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone but it goes to waste
could it be worse?

High up above or down below
when you’re too in love to let it go
but If you never try you’ll never know
Just what your worth

Lights will guide you home
and ignite your bones
And I will try to fix you…

(Fix You, Coldplay)

Bookmark and Share

‘On Being a Fundamentalist’

September 20th, 2007 by atinprabandari

Bismillah, menjadi seorang ‘Muslim Fundamentalis’ adalah sesuatu yang barangkali dihindari sebagian besar dari kita. Image seorang ‘fundamentalis’ , ‘radikal’ benar-benar dipermak sedemikan rupa oleh Barat sebagai sesuatu yang keras; garang; nir kompromi bahkan tak segan menggunakan kekerasan. Sebutlah beberapa kata ’seram’ yang berkaitan dengan citra itu. Jihad. Bom. Bom bunuh diri, dst. Subhanallah.

Image menjadi muslim radikal, menjadi muslim fundamentalis rupanya agak dihindari kebanyakan muslim Indonesia yang termakan labelling barat dan merasa diri mereka sebagai ‘moderat’. Mati-matian pasca 11 September dan serangkaian ledakan bom di Indonesia (Bom Bali, Marriot), umat muslim kita membela diri dan dengan segala barat meyakinkan bahwa kita adalah muslim yang ramah dan bersahabat, anti kekerasan, anti radikalisme etc. Smiling Muslim.
Hal ini sepengamatan saya menjadi trend yang terus berlanjut hingga 5 tahunan setelahnya. Tapi apa yang saya temukan di sekitar saya baru-baru ini, dan pengalaman pribadi saya sebagi bagian dari para ‘pengembara cinta’ menunjukkan hal yang sedikit mengejutkan yet menumbuhkan setitik cita :)

Banyak sekali orang ramah dan taat di sekitar saya yang mentasbihkan dirinya sebagai seorang ‘Muslim Fundamentalis’. Subhanallah.

Sampai-sampai mahasiswa yang pake jin belel pun bilang bahwa ‘Saya tidak keberatan disebut Fundamentalis" dan menyematkan ‘mahkota kebesaran’ sebuah peci arab berwarna putih, sekedar sebagai ’symbol’ Islam dan komitmennya ‘menjadi Muslim Fundamentalis’

Kami bahkan punya Islam-freaks discussion community yang menegaskan diri bahwa komunitas ini akan mengkaji politik Islam secara obyektif namun tetap dengan landasan dan basis Islam. Simbol komunitas kami pun sedang dicari yang melambangkan keIslaman. Lagi-Lagi tentang menjadi ‘Muslim Fundamentalis’

Seorang dosen UMY yang santun dan lemah lembut pun mengatakan di depan kelas sebagai ‘Muslim Fundamentalis’

saya melihat ada pergeseran penerimaan makna menjadi ‘Muslim Fundamentalis’ menjadi sesuatu yang ‘keren’ saat ini, tanpa sedikitpun dukungan pada kekerasan tentunya. Menjadi ‘Muslim Fundamentalis’ merujuk pada kedalaman pemaknaan dan penemuan kembali jati diri menjadi seorang Muslim.

Menggambarkan kekhusyukan dalam menghayati identitas dan pilihan sebagai seorang Muslim. Menggambarkan loyalitas dan komitmen terhadap PILIHAN RASIONAL menjadi seorang Muslim.

Jika demikian adanya, Insya Alloh, saya menyatakan bergabung dengan konvoi saudara-saudara saya yang mentasbihkan diri mereka sebagai Muslim Fundamentalis, dengan konsekuensi kerendahan hati, keterbukaan pikiran dan niat yang kuat untuk menjalani pengembaraan (proses) menjadi makhluk-Nya yang sesuai ‘job desc’ hehehehe, ALlahu’alam, Bismillah.

So, are you part of us?

 

Bookmark and Share